Get the Flash Player to see this rotator.
Pencarian
Banner
wikipediabse
Waktu Sholat
Mars SMADA
Statistik

Hits hari ini : 159
.: Pengunjung :.
Hari ini : 55
Online :

:: Kontak Admin ::

rosyid_98

Hari Pendidikan Nasional

Tanggal : 02-05-2017 07:57, dibaca 775 kali.

Pemerintah berdasarkan Keppres 305 tahun 1959 tanggal 28 November 1959 menetapkan tanggal 2 Mei sebagai hari pendidikan nasional. Selain itu, dalam Keppres tersebut juga menetapkan Ki Hajar Dewantara sebagai Pahlawan Nasional. Penetapan tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional didasarkan pada hari kelahiran Ki Hajar Dewantara.

Ki Hajar Dewantara lahir pada tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta dengan nama RM. Soewardi Soerjaningrat. Beliau merupakan putra dari keluarga bangsawan Yogyakarta. Karena beliau keturunan bangsawan, maka beliau dapat mengenyam pendidikan bersama anak-anak bangsawan lainnya dan anak-anak keturunan belanda.  Ki Hadjar Dewantara menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda) dan kemudian melanjutkan sekolahnya ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) tapi karena sakit, ia tidak bisa menyelesaikan sekolahnya.

Pada masa muda, Ki Hajar Dewantara bekerja sebagai seorang wartawan di beberapa surat kabar antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat antikolonial.

Selain sebagai seorang wartawan, Ia juga ikut berperan aktif dalam ogranisasi sosial dan politik termasuk ketika Boedi Oetomo didirikan Pada tahun 1908, Ki Hadjar Dewantara aktif di seksi propaganda untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu tentang pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kemudian, bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, Ki Hadjar Dewantara mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Ketiga orang tersebut kemudian dikenal dengan tiga serangkai.

Setelah pendirian Indische Partij, kemudian mereka bertiga mendaftarkan organisasi tersebut kepada pemerintah kolonial Belanda untuk mendapatkan status badan hukum. Namun pada tanggal 11 Maret 1913 melalui Gubernur Jendral Idenburg pemerintah kolonial Belanda menolak pendaftaran tersebut karena organisasi ini dianggap dapat membangkitkan rasa nasionalism dan kesatuan rakyat untuk menentang pemerintah kolonial Belanda.

Meskipun usaha mereka untuk mendapatkan status badan hukum organisasi Indische Partij ditolak oleh pemerintah kolonial Belanda ditolak, semangat beliau tidak berhenti sampai disitu. Terbukti pada bulan November 1913, Ki Hadjar Dewantara membentuk Komite Bumipoetra yang bertujuan untuk melancarkan kritik terhadap Pemerintah Belanda.

Ketika pemerintah kolonial Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga, termasuk pribumi, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis pada tahun 1913,  beliau menulis tulisan bernada kritikan kepada pemerintah kolonial Belanda. Tulisan tersebut berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) yang dimuat dalam surat kabar de Expres milik dr. Douwes Dekker. Isi tulisan tersebut sangat tajam mengkritik pemerintah kolonial Belanda sehingga membuat pejabat pemerintah kolonial Belanda menjadi geram. Akibatnya Ki Hajar Dewantara ditangkap dan diasingkan ke pulau Bangka. Mendengar hal tersebut, Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo menerbitkan tulisan yang isinya membela Ki Hajar Dewantara. Akhirnya pemerintah kolonial Belanda menjatuhkan hukuman pengasingan kepada mereka bertiga ke negeri Belanda.

Dalam pengasingan di Belanda, Soewardi aktif dalam organisasi para pelajar asal Indonesia, Indische Vereeniging. Di sinilah ia kemudian merintis cita-citanya memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akte, suatu ijazah pendidikan yang bergengsi yang kelak menjadi pijakan dalam mendirikan lembaga pendidikan yang didirikannya.

Pada tahun 1918, Ki Hadjar Dewantara kembali ke tanah air. Di tanah air Ki Hadjar Dewantara semakin gigih berjuang di bidang pendidikan. Bersama rekan-rekan seperjuangannya, dia pun mendirikan sebuah perguruan nasional pada 3 Juli 1922. Perguruan tersebut diberi nama Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa (Perguruan Nasional Taman Siswa). Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Pemerintah kolonial Belanda berupaya merintanginya dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober 1932.

Tetapi dengan kegigihan memperjuangkan haknya, ordonansi itu kemudian dicabut. Selama mencurahkan perhatian dalam dunia pendidikan di Taman Siswa, Ki Hadjar Dewantara juga tetap rajin menulis. Namun tema tulisannya beralih dari nuansa politik ke pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Melalui tulisan-tulisan itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia. Kegiatan menulisnya ini terus berlangsung hingga zaman Pendudukan Jepang.

Saat Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) pada tahun 1943, Ki Hajar Dewantara ditunjuk untuk menjadi salah seorang pimpinan bersama Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur. Setelah kemerdekaan Indonesia berhasil direbut dari tangan penjajah dan stabilitas pemerintahan sudah terbentuk. Ki Hadjar Dewantara dipercaya oleh presiden Soekarno untuk menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Melalui jabatannya ini. Pada tahun 1957, Ki Hadjar Dewantara mendapatkan gelar Doktor Honori Klausa dari Universitas Gajah Mada. Dua tahun setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa itu, tepatnya pada tanggal 28 April 1959 Ki Hadjar Dewantara meninggal dunia di Yogyakarta dan dimakamkan di sana.

Ajarannya yakni tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan) akan selalu menjadi dasar pendidikan di Indonesia. Untuk mengenang jasa-jasa Ki Hadjar Dewantara pihak penerus perguruan Taman Siswa mendirikan Museum Dewantara Kirti Griya, Yogyakarta, untuk melestarikan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hadjar Dewantara.

Sumber :

1. Wikipedia

2. profil.merdeka.com

 



Pengirim : Rosyid_98
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :

   Kembali ke Atas